telusur.co.id - Ketua Dewan Syariat Hizbullah Lebanon Syeikh Mohammed Yazbek mengecam publikasi karikatur menghina ulama besar Irak Ayatullah Sayid Ali Sistani oleh salah satu surat kabar Arab Saudi. Menurutnya, Ayatullah Sistani adalah orang yang menjaga Irak dari bahaya terorisme.
Fars News, Sabtu (4/7/2020) melaporkan, surat kabar Al Sharq Al Awsat baru-baru ini memuat karikatur menghina ulama besar Ayatullah Sayid Ali Sistani, salah satu Marja Taklid Irak. Penghinaan ini dikecam keras oleh Hizbullah.
Dalam wawancara dengan situs berita Al Ahed, Ketua Dewan Syariat Hizbullah, Syeikh Mohammed Yazbek mengatakan, di dunia media ada yang lebih buruk dari meriam dan senjata pemusnah, dan itu jauh lebih merugikan.
Ia menambahkan, Ayatullah Sistani telah melindungi Irak dari terorisme dan agresi militer, beliau bukan hanya tokoh agama, tapi juga tokoh nasional.
Dua anggota senior kelompok al-Nujaba’ dalam statemen terpisah mengecam keras harian Saudi yang menghina Ayatullah Ali Sistani.
Juru bicara resmi al-Nujaba, Nashr al-Shamari, dalam tweet-nya menyebut sikap anti-Syiah Dinasti Saud serta para antek AS dan Israel bukanlah fenomena yang mengherankan.
“Orang-orang Saudi adalah mereka yang telah menumpahkan darah kaum Muslimin,”cuit al-Shamari.
“Namun penghinaan mereka terhadap marja’ adalah bukti gamblang atas pahitnya kegagalan konspirasi mereka lantaran keputusan tegas marja’,”imbuhnya.
Al-Shamari menuntut agar penghinaan-penghinaan Saudi ini tidak didiamkan begitu saja. Dia menekankan bahwa Pemerintah Irak dan rakyat mesti merespons tindakan Saudi.
Di lain pihak, Ali al-Asadi (Ketua Dewan Politik al-Nujaba’) menilai, alasan utama penghinaan harian Saudi, al-Sharq al-Awsat adalah fatwa jihad Ayatullah Sistani untuk melawan ISIS.
Ia menyatakan, fatwa jihad ini telah memupus impian kelompok takfiri serta antek AS-Israel, serta melindungi negeri dan martabat Irak.
Sejumlah ulama Irak juga merilis statemen yang mengecam karikatur yang menghina Ayatullah Sistani tersebut.
Dalam statemen itu disebutkan, cara Dinasti Saud dalam menyulut krisis di Irak dan penghinaan terhadap marja’ masih belum berubah. [Tp]



