Donald Trump Klaim Selat Hormuz Bisa Segera Dibuka, Iran Tegas Bantah Ada Negosiasi - Telusur

Donald Trump Klaim Selat Hormuz Bisa Segera Dibuka, Iran Tegas Bantah Ada Negosiasi

Selat Hormuz

telusur.co.id - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa Selat Hormuz dapat “segera dibuka” jika pembicaraan diplomatik dengan Iran berjalan lancar.

Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh pemerintah Iran. Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung, baik secara langsung maupun melalui perantara.

Di tengah situasi yang belum pasti, laporan kerusakan muncul dari fasilitas energi Iran. Sebuah stasiun pengatur tekanan gas di Isfahan serta pipa gas menuju pembangkit listrik di Khorramshahr dilaporkan mengalami kerusakan. Hingga kini, belum jelas apakah insiden tersebut terkait langsung dengan eskalasi militer terbaru.

Menariknya, kejadian ini terjadi di tengah pernyataan Trump yang mengaku telah menunda serangan terhadap fasilitas energi Iran setidaknya selama lima hari setelah “percakapan produktif”—yang justru dibantah oleh Teheran.

Ketidakpastian ini langsung berdampak pada pasar global. Harga minyak mentah Brent crude oil kembali melonjak di atas $100 per barel pada Selasa pagi, setelah sebelumnya sempat anjlok lebih dari 13% בעקבות pernyataan Trump yang memberi sinyal pelonggaran.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa militernya akan terus melancarkan serangan terhadap Iran dan Lebanon.

Ia menyebut upaya Trump sebagai langkah untuk “memanfaatkan pencapaian militer besar”, namun menekankan bahwa tekanan terhadap Iran tidak akan dikendurkan.

Trump sebelumnya meningkatkan tekanan dengan mengancam akan menyerang fasilitas energi Iran jika Teheran tidak menarik ancamannya terhadap pelayaran di Selat Hormuz. Iran merespons dengan keras, bahkan merilis daftar target potensial berupa fasilitas energi di kawasan Teluk.

Trump juga memicu kontroversi dengan menyatakan kemungkinan “perubahan rezim yang sangat serius” di Iran. Pernyataan ini ditolak keras oleh Teheran, yang menegaskan stabilitas kepemimpinan tetap terjaga di bawah Mojtaba Khamenei.

Di tengah eskalasi, Pakistan dilaporkan menawarkan diri menjadi mediator pembicaraan langsung antara AS dan Iran. Namun, Gedung Putih belum memberikan konfirmasi terkait laporan bahwa utusan seperti Steve Witkoff, Jared Kushner, dan Wakil Presiden JD Vance akan melakukan kunjungan ke Islamabad.

 

Sumber: RT


Tinggalkan Komentar