telusur.co.id - Deklarator Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Lieus Sungkharisma angkat bicara terkait adanya aksi demo penolakan dan pembubaran terhadap acara KAMI di Surabaya, Jawa Timur (Jatim) pada Senin (28/9/20).
Menurur Lieus, KAMI diuntungkan dengan adanya aksi tersebut, karena demo penolakan dan pembubaran kegiatan itu ramai diberitakan media dan jadi sorotan publik, sehingga secara tidak langsung pihak yang menentang KAMI ikut mempromosikan dan membesarkan gerakan moral bentukan Din Syamsuddin cs itu.
"Jadi kalau buat KAMI, (demo dan pembubaran kegiatan) itu nggak masalah. KAMI mah happy, senyum-senyum, dapat iklan gratis," kata Lieus kepada wartawan, Rabu (30/9/20).
"Karena kalau nggak diberhentikan polisi dan didemo, mungkin beritanya kecil. Tapi kalau begini kan sampai ke luar negeri, sampai ke seluruh pelosok negeri," tambahnya.
Meski demikian, Lieus tetap mengecam aksi penolakan sejumlah massa yang diikuti tindakan pembubaran oleh aparat itu, karena telah mencoreng nama Indonesia di mata dunia sebagai negara demokrasi.
Lieus mengungkapkan, tindakan tersebut mengoyak tiga pondasi hak-hak sipil dan politik warga negara yang dijamin konstitusi, yaitu kebebasan berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat.
"KAMI mah diuntungkan, tapi buat negeri ini rugi, kita nggak bisa tenang karena ruginya buat image ini sebagai negara demokrasi, kan rugi dong. Ingat, hak berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat dijamin konstitusi, Undang-Undang Dasar lho," jelas Lieus.
"Jadi bukan buat mikirin KAMI pribadi, karena ini menyangkut demokrasi. Kan demokrasi kita rankingnya turun kan. Jangan main-main, ini jadi catatan luar negeri," tegas Koordinator Forum Rakyat Itu.
Seperti diberitakan, KAMI Jatim menggelar acara silaturahmi akbar dengan tema 'Mengantisipasi Bangkitnya Komunisme Gaya Baru' di Surabaya, Senin (28/9/20).
Namun acara yang dihadiri oleh salah satu deklaratornya, Gatot Nurmantyo, mendapat respons penolakan dan unjuk rasa hingga akhirnya dibubarkan oleh kepolisian. [Tp]



